Home » Gallery BJF » Pohon Jati » BUDIDAYA TANAMAN JATI
Kategori
Visitor

BUDIDAYA TANAMAN JATI

 BUDIDAYA TANAMAN JATI

POHON JATI Dewasa ini banyak ditemukan ekspoitasi pemanfaatan tumbuhan tanpa memperhatikan efeknya terhadap pelestarian lingkungan. Adapun eksploitasi tumbuhan tersebut dapat berupa pemanfaatan sebagian atau keseluruhan bagian tumbuhan tersebut. Apabila kondisi tersebut tetap dibiarkan maka akan berdampak negatif terhadap kelangkaan tumbuhan yang di eksploitasi secara besar- besaran bahkan kondisi terparah adalah terjadi kepunahan pada tumbuhan tersebut.
Salah satu tumbuhan yang dieksploitasi adalah tumbuhan Jati. Tumbuhan Jati banyak dimanfaatkan untuk perabotan rumah tangga, bahan bagunan dan lai sebagainya. Adapun daunnya dapat dimanfaatkan untuk pembungkus makanan (misal ikan) karena merupakan polimer alami.
Untuk mengetahui peranan tumbuhan Jati, maka perlu mengkaji tentang karakteristik tumbuhan Jati yang meliputi deskripsi, habitus dan klasifikasi ilmiah.

MORFOLOGI TANAMAN JATI

Secara morfologis, tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30 – 45 m. Dengan pemangkasan, batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15 – 20 cm. Diameter batang dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu kasar, berwarna kecoklatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Percabanganjauh dari batang utama. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar empat.

Klasifikasi Ilmiah Tumbuhan Jati
Kerajaan     : Plantae
Divisi           : Magnoliophyta
Kelas            : Magnoliopsida
Ordo             : Lamiales
Famili           : Lamiaceae
Genus           : Tectona
Spesies          : Tectona grandis

Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang. Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun. Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya. Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu. Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil.
Tata daun berbentuk opposite dengan bentuk daun besar membulat seperti jantung, berukuran panjang 20-50 cm dan tebal 15-40 cm. Ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul dan tepi daun bergelombang. Permukaan atas daun kasar sedangkan permukaan bawah daun berbulu. Pertulangan daun menyirip. Tangkai daun pendek dan mudah patah serta tidak memiliki daun penumpu (Stipule). Tajuk tidak beraturan. Daun muda (Petiola) berwarna hijau kecoklatn, sedangkan daun tua berwarna hijau tua keabu abuan.
Bunga jati bersifat majemukyang terbentuk dalam malai bunga (inflorence) yang tumbuh terminal diujung atau tepi cabang. Panjang malai antara 60-90 cm dan lebar antara 10-30 cm. Bunga jantan (Benang sari) dan betina (Putik) berada dalam 1 (satu) Bunga (monoceus). Bunga bersifat actinomorfic , berwarna putih, berukuran 4-5 mm (lebar)dan 6-8 mm (Panjang). Kelopak bunga (calyx) berjumlah 5-7 dan berukuran 3-5 mm. Mahkota bunga (corolla) tersusun melingkar berukuran sekitar 10 mm. Tangkai putik (Stamen) berjumlah 5-6 buah dengan filamen berukuran 3 mm, antara memanjang berukuran 1-5 mm, ovarium membulat berukuran sekitar 2 mm. Bunga yang terbuahi akan menghasilkan buah berukuran 1-1,5 mm. Tanaman jati akan mulai berbunga pada saat musim hujan.
Kondisi Ekologi yang Diperlukan Untuk penanaman jati dalam areal yang luas, maka sebagaimana tanaman perkebunan lainnya persyaratan ekologis mutlak diperlukan. Ini lebih pada tingkat keberhasilan penanaman jati yang kita laksanakan. Sebenarnya tanaman jati tidak memerlukan kondisi tanah dengan topografi yang terlalu menuntut, tetapi akan lebih baik apabila tanah pada kisaran kemiringan lereng dari datar sampai maksimum 20%. Ini juga dalam kaitan mencegah terjadinya erosi besar-besaran saat tanah diolah untuk penanaman, sehingga tanah yang memiliki kemiringan curam tidak dibenarkan untuk dibuka. Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman jati adalah tanah yang memiliki tekstur lempung, lempung berpasir atau liat berpasir, meskipun untuk beberapa jenis tanah tanaman jati masih dapat tumbuh dengan baik. Tanaman jati ini sangat menyenangi tanah dengan prorositas dan drainase yang baik, dan sebaliknya akan tumbuh tidak baik pada tanah-tanah yang tergenang.
Tanaman jati memerlukan curah hujan pada kisaran 750 – 2500 mm/tahun, meskipun untuk curah hujan > 3000 mm/tahun masih dapat tumbuh meskipun kekuatan kayu yang dihasilkan tidak terlampau baik. Saat ini saya sudah menanam jati berumur pendek ini dalam areal sekitar 10 hektar di Sukabumi yang memiliki curah hujan > 1500 mm/tahun. Suhu yang paling optimum untuk tanaman jati adalah sekitar 32 – 42 °C dengan kelembaban 60-80%.
Pohon , tinggi sampai 40 m. Batang jauh di atas tanah baru bercabang. Bagian yang muda dan bagian sisi bawah daun berbulu vilt rapat, berbentuk bintang. Daun bertangkai pendek, kadang- kadang duduk, elips atau sedikit banyak bulat telur , dengan ujung yang berbentuk baji dan bagian pangkal yang menyempit, pada cabang yang berbunga, 23-40 kali 11-21 cm. Daun yang muda sering coklat kemerah- merahan. Karangan bunga tersusun dari anak payung menggarpu, di ujung, berambut serupa tepung ditutupi dengan kelenjar. Bunga ltak 1 cm garis tengahnya,  jarang berbilangan 5, biasanya berbilangan  6-7. Kelopak berbentuk lonceng, pada waktu menjadi buah membesar dan melembung. Mahkota bentuk jantera corong, dengan  tabung pendek, putih, kadang- kadang agak ros, leher tidak berambut. Benang sari sebanyak tajumahkota, menjulang jauh. Bakal buah beruang 4, bakal biji 4. Tangkai putik dengan ujung yang terbelah dua pendek. Buah berambut kasar, inti tebal, berbiji 2-4. Mungkin dari India Belakang, ditanam dan liar, terutama di daerah kering secara berkala, sampai 650 m. Musim berbunga kebanyakan dalam permulaan musim penghujan.
Di bawah pengawasan kehutanan banyak ditanam pohon yang merupakan penutup tanah yang sangat berharga pada tanah kering secara berkala, bahkan pada daerah yang tak subur, kayu jati yang sangat tahan lama sangat tepat untuk bangunan rumah dan pembuatan mebel. Daunnya oleh penduduk dipergunakan untuk bahan pembungkus. Dalam musim kemarau pohon tidak berdaun lamanya berbulan- bulan.
BUDIDAYA TANAMAN JATI

Secara garis besar, pengadaan bibit jati dapat dilakukan melalui dua cara yaitu secara generatif dan secara vegetatif. Secara generatif, pengadaan bibit jati dilakukan dengan menggunakan biji. Biji jati yang akan digunakan dipilih yang masih baru, karena biji jati yang telah disimpan sangat mudah berkurang daya kecambahnya. Buah jati termasuk jenis buah batu, memiliki kulit yang keras dan persentase perkecambahan rendah dibandingkan dengan species lain. Untuk itu perlakuan-perlakuan tertentu dilaksanakan agar mampu memecah dormansi biji.

1.    SYARAT TUMBUH TANAMAN JATI
Syarat Tumbuh Budidaya Pohon Jati di Indonesia menurut dinas pertanian adalah ditempat yang beriklim tropis, kalau di Indonesia seperti seluruh pulau jawa, sebagian pulau sumatra, sulawesi selatan, sulawesi tenggara, NTB dan maluku dengan Syarat Tumbuh Budidaya Pohon Jati sebagai berikut:

1. Curah hujan 1500-2500mm/tahun.
2. Bulan kering 2-4 bulan.
3. Tinggi lokasi penanaman 10-1000 m dari permukaan laut.
4. Intensitas cahaya 75-100%.
5. Ph tanah 4-8.
6. Jenis tanah lempung berpasir, hindari tanah becek/rawa dan cadas.

Syarat Tumbuh Budidaya Pohon Jati untuk wilayah Lampung masih dalam area yang disebutkan diatas. Selain yang disebutkan diatas Syarat Tumbuh Budidaya Pohon Jati yang saya lihat bagus adalah ditanah pegunungan batu kapur dimana banyak tumbuh  tanaman Pohon Jati. Indikasi yang jelas dapat kita temukan apakah cocok suatu tanaman pepohonan didaerah itu itu adalah dengan melihat sekelliling daerah tersebut biasanya banyak terdapat pepohonan yang kita maksud tumbuh secara liar.
Ditanah pegunungan yang terkenal subur Syarat Tumbuh Budidaya Pohon Jati jelas terpenuhi, pohon jati bisa tumbuh lebih cepat itu sudah terbukti dengan melihat umur pohon jati ditanah yang datar atau ladang biasa diameter batangnya berbeda dengan yang tumbuh dilereng gunung. Pohon jati yang saya tanam berasal dari bibit alami, dan pola tanam yang sangat tradisional hanya jarak saja yang teratur membuat terlihat seperti profesional. Untuk mendapatkan batang yang bagus dan lurus kita harus mengatur jarak barisan antara 6 meter – 8 meter sedangkan larikan antara 4 m – 6 m sebagai Syarat Tumbuh Budidaya Pohon Jati yang baik.

2.    PERBANYAKAN TANAMAN JATI
Stek pucuk adalah metode perbanyakan vegetatif  secara konvensional  dengan  menumbuhkan terlebih dahulu  tunas-tunas axilar pada media  persemaian sampai berakar sebelum dipindahkan ke lapangan. Keberhasilan   stek pucuk tergantung pada beberapa faktor  dalam  dan luar.  Yang termasuk faktor dalam  diantaranya  adalah tingkat  ketuaan donor  stek,  kondisi fisiologi stek, waktu pengumpulan stek, dsb.   Sedangkan yang termasuk faktor luar antara lain adalah  media perakaran,  suhu, kelembaban, intensitas cahaya dan  hormon pengatur tumbuh.
http://forestryinformation.files.wordpress.com/2011/06/image0031.gif?w=300&h=145
Gambar 2. Stek pucuk dan hasil  stek umur 2 bulan
Tahapan yang perlu diperhatikan dalam  pembuatan stek pucuk : Pengguntingan stek, Pemberian hormon tumbuh, Penanaman stek, Aklimatisasi dan Pemeliharaan stek.
Tahapan yang perlu diperhatikan dalam  pembuatan stek pucuk :

A. Peralatan stek  :
1.       Gunting  stek  untuk memotong   batang stek ,  pisau atau cutter   untuk  memperhalus permukaan  stek, timbangan analitik, cetok, sekop, ayakan pasir, gembor, sprayer.
2.      Tempat / bak stek yang memperhatikan  drainase guna  menghindarkan adanya genangan air (bak perakaran dengan ukuran 500 x 600x 20 cm), plastik sungkup, ember plastik, bak plastik.
3.      Peneduh / sharlon dan sungkup untuk menjaga suhu dan kelembaban udara rata-rata 80%  dalam bak  serta mengurangi  intensitas cahaya matahari secara langsung (± 25%.)
4.      Label yang memadai untuk memberikan informasi   yang jelas dari perlakuan  yang digunakan dan  tanggal pelaksanaan
5.      Media yang sesuai untuk stek, yaitu media yang mampu  menahan kelembaban air, cukup aerasi  dan dapat menahan dengan  baik  kedudukan stek yang ditanam (media stek yaitu pasir, kompos dan topsoil dengan perbandingan  2 : 2 : 1).
6.      Fasilitas penunjang diperlukan untuk memproduksi stek dalam jumlah besar dan  jangka panjang,  antara lain adalah :  pengaturan suhu,  pengaturan naungan, pengaturan ventilasi, pengaturan penyiraman dan pengaturan kelembaban  ruangan yang dijalankan  secara  otomatis   merupakan suatu hal   yang menunjang keberhasilan pembuatan stek .

B.  Medium  stek
Umumnya   media yang digunakan  untuk penyetekan adalah media yang mampu  menahan kelembaban air, cukup aerasi  dan dapat menahan dengan  baik  kedudukan stek yang ditanam.   Media tersebut dapat menggunakan   pasir dan kompos  dengan  perbandingan  2 : 1 atau menggunakan  pasir, kompos dan topsoil dengan perbandingan 2:2:1.  Penempatan medium  stek  dapat     menggunakan bak stek  atau  langsung  menggunakan polybag  yang selanjutnya  ditempatkan  pada  bak stek permanen.

C.  Metode  pengguntingan  stek
Metoda  pengguntingan  stek  yang dilakukan ada dua cara  yaitu menggunting pada kebun pangkas  berdasar pertumbuhan  kebun pangkas dan cara untuk menggunting  untuk stek dari tunas  di kebun pangkas.
Pengguntingan pada setiap sumbu pokok  atau tunas dilakukan  pada sekitar 1 cm  diatas mata /nodum (duduk daun) karena zat auksin yang membantu pertumbuhan jaringan baru terletak di bawah nodum tersebut. Pada prinsipnya  setiap mata akan  menghasilkan tunas baru  asalkan dijaga  pertumbuhan dominansi apikalnya. Pada cabang yang tertinggal  di sumbu pokok dibiarkan tumbuh  sampai mempunyai  3-5  daun dewasa baru  digunting ujung cabangnya.Daun pada stek dikurangi hingga tinggal 2/3nya.

D.  Metode pemberian hormon
Pemberian hormon dalam bentuk larutan IBA ( Indole Buteric Acid), NAA (Naftalene Acetic Acid ) dan IAA (Indole Acetic Acid), biasanya menggunakan konsentrasi  10 sampai 30  ppm  dan direndam  selama beberapa saat.   Cara  pembuatan hormon   dalam bentuk larutan ini  pertama – tama adalah  melarutkan hormon dengan sedikit alkohol, kemudian ditambahkan air  sedikit demi sedikit  dengan pipet sesuai dengan  konsentrasi yang diinginkan. Pemberian dengan cara bubuk  dapat dilakukan  dengan  cara  mencampur  hormon tersebut dengan  bubuk (talk) sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan dan langsung dioleskan  pada stek secara langsung atau terlebih dahulu dibuat pasta.

E.  Cara penanaman stek jati
Pada dasarnya penanaman stek memerlukan  syarat-syarat tertentu  antara lain :
a.       Kelembaban  tinggi  ( > 80 %), disemprot dengan sprayer 2x sehari (pagi dan siang).
b.      Suhu lingkungan berkisar antara 24 – 32º Celcius.
c.       Media tanah mempunyai aerasi yang baik dan terjaga  kelembabannya dengan baik.
d.      Intensitas cahaya matahari yang masuk 25%.

Beberapa cara penanaman stek yang umum  digunakan  adalah :
a.  Penanaman langsung pada bedengan , dengan  membuat gundukan dibawah rimbunan  tanaman  yang sengaja dibuat untuk peneduh dan akan lebih baik bila tanahnya  disterilkan terlebih dahulu.
b.  Penanaman dengan menggunakan bak tabur.  Umumnya  media yang  digunakan adalah  dibuat sedemikian rupa  sehingga mempunyai kemampuan  untuk menahan air dengan baik  dan darinase yang baik.  Bak tabur dapt dilengkapi sungkup  plastik dan jaring  naungan untuk menjaga suhu dan kelembaban  serta intensitas cahaya.
c.  Penanaman dengan menggunakan polybag secara langsung yang mana  kantong tersebut  setelah ditanami  diletakkan dibawah sungkup  plastik dengan  diberi naungan. Penanaman stek dengan polybag lebih praktis dan efisien, karena stek yang berakar tidak perlu disepih lagi.
F.  Pemeliharaan dan penyapihan stek
Pemeliharaan stek terdiri atas  penyiraman  secara rutin pagi dan sore,  penyiangan  dari  rumput/ lumut  serta penyemprotan dari hama  dan penyakit.  Penyapihan stek dilakukan   apabila  stek yang ditanam sudah berakar dan siap diaklimatisasi pada tempat diluar bedeng dengan intensitas cahaya yang bervariasi

3.    TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN JATI

A.  Pengadaan benih dan perkecambahan.
(a) Buah jati direndam dalam air dingin, lalu dijemur di bawah terik matahari, diulang selama 1 – 2 minggu.
(b)   Biji jati direndam dalam air dingin – air panas bergantian selama 1 minggu.
(c)   Daging buah digosok dengan amplas, sehingga memudahkan air dan udara masuk kedalam biji.
(d)  Biji jati direndam dalam larutan asam sulfat pekat ( H2SO4 ) selama 15 menit, kemudian dicuci dengan air dingin setelah itu baru dikecambahkan dengan media pasir.
(e)   Biji jati dioven pada suhu 50ºC selama 48 jam.
(f)   Biji jati dimasukan dalam karung goni kemudian direndam pada air mengalir (sungai kecil) selama 1 minggu kemudian ditiriskan selama 1 hari, selanjutnya ditabur di bedeng tabur.
(g)  Media untuk pertumbuhan kecambah terdiri Media tabur menggunakan pasir steril yang telah dijemur dibawah sinar matahari selama 1 hari, atau dapat juga disemprot dengan fungisida (Benlate).
(h)  Media kecambah (pasir) ditempatkan pada bak tabur dan jangan sampai dipadatkan.
(i)   Benih ditanam dengan bekas tangkainya dibawah, ditekan kedalam media sedalam 2 cm kemudian ditimbun.
(j)   Penyiraman dilakukan agar media menjadi basah, dan pada benih jati akan terjadi proses pengecambahan.
(k)  Pada hari ke 23 sampai ke 27, umumnya 20% biji jati mulai  berkecambah. Perkecambahan hingga 70% dari keseluruhan biji yang ditanam tercapai antara hari ke 44 hingga hari ke 47.

B.  Pembibitan.
Polybag yang kita siapkan berisi tanah, pupuk organic/kandang, dan rambut padi, dengan perbandingan 1 : 3 : 2. dan semprotkan pupuk cair sebagai pembenah dan pengelola unsur hara, yang terdiri dari: Pupuk hayati Bio P 2000 Z + Phosmit  + air dengan perbandingan 1 : 1 : 180. Semprotkan secukupnya ( 1 liter campuran untuk 50 liter media pembibitan)
Perawatan di pembibitan terdiri dari penyiraman dan pemupukan ulang dilakukan pada bulan ke 3. Setelah bibit berumur 3 bulan kondisinya sudah siap untuk ditanam di lapangan.
Selain dengan biji, maka pembbitan dapat dilakukan dengan stek pucuk. Media yang digunakan untuk penamanan stek adalah pasir, kompos dan tanah top soil dengan perbandingan 2:2:1). Pengguntingan dilakukan pada tunas – tunas yang tegak (orthotrop) pengguntingan pada setiap sumbu pokok atau tunas dilakukan pada sekitar 1 cm diatas mata/nodum (duduk daun) karena zat auksin yang membantu pertumbuhan jaringan baru terletak di bawah nodum tersebut. Pada prinsipnya setiap mata akan menghasilkan tunas baru asalkan dijaga pertumbuhan dominansi apikalnya. Pada cabang yang tertinggal disumbu pokok dibiarkan tumbuh sampai mempunyai 3 – 5 daun dewasa baru digunting ujung cabangnya. Daun pada stek dikurangi hingga tinggal 2/3 nya.

C.  Penyiapan lahan.
a)    Penyiapan lahan untuk tanaman hutan.
–           Pada tanaman di lahan HTR  yang perlu diperhatikan adalah penentuan luas lahan dan jarak tanam serta lamanya produk kayu yang akan dipanen. Karena model yang diharapkan adalah rotasi tanam hutan yang berkelanjutan. Jika akan membutuhkan waktu panen antara 5 s/d 6 tahun maka jarak yang digunakan adalah jarak tanam dapat menggunakan 2,5  X 2.5 meter. Sehingga dalam 1 ha terdapat  1300 pohon. Jika umur panen 7 s/d 8 tahun maka sebaiknya menggunakan jarak tanah 2,5  X 3 meter.
–                       Untuk menata jarak tanam dan arah yang tepat maka dapat dilakukan dengan memberi ajir terlebih dahulu, kemudian digali lobang dengan ukuran 30 cm X 30 cm X 30 cm.
–           Setelah 10 hari sejak penggalian lobang, maka galian tersebut diberi pupuk kandang dan pupuk an organik
–                       Lahan diberikan pupuk hayati Bio P 2000 Z + Phosmit  + 200 liter air dalam 1 ha. Kegunaan pupuk ini  sebagai pembenah tanah, pengelola unsur hara yang ada di alam.
b)   Penyiapan lahan untuk tanaman sela.
–  Selain lahan untuk tanaman hutan, disiapkan pula lahan untuk tanaman sela penanaman.
–   Setelah lahan sudah tersedia dan dalam keadaan siap tanam maka bibit yang sudah disediakan ditanam pada lobang yang telah disiapkan.
–   Gunting separuh daun – daun yang ada pada bibit dan sisakan 2 daun (hal ini dilakukan agar konsentrasi pertumbuhan pada saat tanam ada pada daun baru ).
–   Masukkan bibit dan taruh pupuk tambahan sejajar dengan tajuk daun. Timbun lubang dengan tanah bagian bawah pada saat penggalian awal.

D.  Pemeliharaan

1.      Pendangiran (membersihkan piringan seluas canopy tanaman) dan pembumbunan.
Tiga bulan setelah tanam, piringan seluas canopy didangir, dibersihkan dari gulma/tumbuhan pengganggu lainnya, serta dibumbun. Pendangiran adalah kegiatan penggemburan tanah di sekitar tanaman untuk memperbaiki sifat fisik tanah (drainase tanah), yang dapat memacu pertumbuhan tanaman jati. Pendangiran dilakukan pada umur tanaman jati 3 bulan hingga 4 tahun dan dilakukan 1 – 2 kali dalam setahun
2.      Penyulaman tanaman yang mati atau kerdil.
Selama proses pemeliharaan berlangsung, penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tidak sehat karena terserang penyakit atau tanaman yang jelek pertumbuhannya (patah, bengkok, dan gundul). Penyulaman dilakukan selama masa awal pemeliharaan yaitu 1 – 2 tahun, frekwensi penyulaman 2 kali setahun
3.      Penyiangan atau pengendalian gulma
Rumput, alang-alang dan gulma harus dikendalikan karena menjadi pesaing tanaman jati dalam memperoleh cahaya matahari, kelembaban dan unsur hara tanah.
Penyiangan gulma dilakukan, baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Frekwensi penyiangan minimum 3 – 4 bulan sekali dalam setahun saat tanaman jati berumur 1 – 2 tahun. Selanjutnya penyiangan dilakukan setiap 6 – 12 bulan sekali sampai tanaman dipanen.

4.      Pemupukan tanaman
Tiga bulan setelah ditanam, tanaman jati diberi pupuk NPK (15:15:15) 100gr. Cara pemupukan: tanah seluas canopy didangir dan digemburkan terlebih dahulu (hati-hati jangan terlalu dalam agar tidak mengenai akar), lalu dibuatkan siring melingkar (lebar siring 10 cm dan dalamnya 15 cm) dengan diameter siring tepat diujung canopy atau tepat diujung akar-akar rambut yang akan menyerap pupuk tersebut. Kemudian masukkan pupuk dan selanjutnya siring ditutup kembali dengan tanah dan dilakukan penyiraman.
Pemupukan selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama seperti tersebut di atas, pada usia tanaman dan dengan dosis per pohon sebagai berikut:
·   Usia tanaman 6 bulan dengan dosis 100gr NPK
·   Usia tanaman 9 bulan dengan dosis 100gr NPK
·   Usia tanaman 12 bulan dengan dosis 100gr NPK
·   Usia tanaman 24 bulan dengan dosis 100gr NPK dan 50gr Urea
·   Usia tanaman 48 bulan dengan dosis 100gr NPK dan 100gr Urea

5.      Pemangkasan cabang dan Perwiwilan
Pemangkasan cabang adalah kegiatan pembuangan cabang yang tidak diinginkan untuk memperoleh batang bebas cabang sampai ketinggian 6 meter dari tanah. Memangkas atau memotong cabang harus tepat dipangkal batang atau ruas pertama dari tunas air. Untuk menghindari kontak dengan bibit penyakit, luka bekas pemangkasan sebaiknya ditutupi dengan bahan penutup luka seperti ter atau parafin.
6.      Pemangkasan tonggak penyangga
Jika ada tanaman yang tumbuhnya tidak tegak/agak condong atau pertumbuhannya tidak tegar (agak kurus maka perlu diberi penyangga).

7.      Pemberantasan Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan alat Hand Sprayer pada dosis/takaran, serta cara yang tepat (dosis/takaran dan caranya dapat dibaca pada kemasan produk obat pestisida yang digunakan). Hama dan penyakit, tanda serangan, akibat yang ditimbulkan serta pestisida pemberantasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

a)      Hama ulat jati (Hyblaea puera & Pyrausta machaeralis) yang menyerang pada awal musim penghujan, yaitu sekitar bulan Nopember – Januari dengaan gejalan daun-daun yang terserang berlubang karena dimakan ulat. Bila jumlah ulat tersebut tidak banyak cukup diambil dan dimatikan. Bila tingkat serangan sudah tinggi, maka perlu dilakukan pengendalian dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida.
b)      Hama uret (Phyllophaga sp) yang merupakan larva kumbang, biasanya menyerang pada bulan Februari – April dengan memakan akar tanaman terutama yang masih muda, sehingga tanaman tiba-tiba layu, berhenti tumbuh dan kemudian mati. Jika media dibongkar, akar tanaman terputus/rusak dan dapat dijumpai hama uret. Kerusakan dan kerugian paling besar akibat serangan hama uret terutama terjadi pada tanaman umur 1-2 bulan di lapangan, tanaman menjadi mati. Pencegahan dan pengendalian hama uret dilakukan dengan penambahan insektisida granuler di lubang tanam pada saat penanaman atau pada waktu pencampuran media di persemaian, khususnya pada lokasi-lokasi endemik/rawan hama uret.
c)      Hama Tungau Merah (Akarina), biasanya menyerang pada bulan Juni – Agustus dengan gejala daun berwarna kuning pucat, pertumbuhan bibit terhambat. Hal ini terjadi diakibatkan oleh cairan dari tanaman/terutama pada daun dihisap oleh tungau. Bila diamati secara teliti, di bawah permukaan daun ada tungau berwarna merah cukup banyak (ukuran ± 0,5 mm) dan terdapat benang-benang halus seperti sarang laba-laba. Pengendalian hama tungau dapat dilakukan dengan menggunakan akarisida.
d)     Hama kutu putih/kutu lilin yang bisa menyerang setiap saat pada bagian pucuk (jaringan meristematis). Pucuk daun yang terserang menjadi keriting sehingga tumbuh abnormal dan terdapat kutu berwarna putih berukuran kecil. Langkah awal pengendalian berupa pemisahan bibit yang sakit dengan yang sehat karena bisa menular. Bila batang sudah mengkayu, batang dapat dipotong 0,5 – 1 cm di atas permukaan media; pucuk yang sakit dibuang/dimusnahkan. Jika serangan sudah parah dan dalam skala yang luas maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan akarisida.
e)       Hama lalat putih atau serangga kecil bertubuh lunak, mirip lalat, termasuk dalam ordo Homoptera. Hama ini mencucuk dan mengisap cairan tanaman sehingga menjadi layu, kerdil bahkan mati. Selain itu dapat menularkan virus dari tanaman sakit ke tanaman sehat. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara 1) biologis menggunakan musuh alami berupa predator dan parasitoid, 2) melakukan wiwilan daun dan penjarangan bibit dalam bedengan, 3) penyemprotan larutan campuran insektisida-deterjen sedini mungkin ketika mulai terlihat di persemaian, terutama diarahkan ke permukaan daun bagian bawah, karena serangga ini mengisap cairan dan tinggal pada bagian tersebut, 4) secara mekanis, menggunakan alat penjebak lalat putih (colour trapping) dan 6) pemupukan NPK cair, untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan bibit di persemaian.
f)        Penyakit layu–busuk semai sering terjadi pada kondisi lingkungan yang lembab, seperti pada musim hujan. Penyakit ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu 1) serangan penyakit yang dipicu oleh kondisi lingkungan yang lembab dengan gejala banyaknya bibit yang membusuk. Penanganan secara mekanis dapat dilakukan dengan penjarangan bibit, wiwil daun dan pembukaan naungan untuk mengurangi kelembaban. 2) serangan penyakit yang dipicu oleh hujan malam hari/dini hari pada awal musim hujan dengan gejala berupa daun layu seperti terkena air panas. Penyakit ini umumnya muncul pada saat pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan, saat hujan pertama turun yang terjadi pada malam hari atau dini hari pada awal musim hujan. Seranga penyakit terutama pada bibit yang masih muda dan menyebar dengan cepat.
g)      Hama rayap biasa menyerang tanaman jati muda pada musim hujan yang tidak teratur atau puncak musim kemarau. Prinsip pengendaliannya dengan mencegah kontak rayap dengan batang/perakaran tanaman. Usaha yang dapat dilakukan dengan mengoleskan kapur serangga di pangkal batang, menaburkan abu kayu di pangkal batang pada waktu penanaman, pemberian insektisida granuler (G) pada lubang tanam ketika penanaman khususnya pada lokasi yang endemik/rawan rayap,
mengurangi kerusakan mekanis pada perakaran dalam sistem tumpang sari dan menghilangkan sarang-sarangnya.
h)      Hama penggerek batang/oleng-oleng (Duomitus ceramicus) adalah bentuk larva yang hidup dalam kulit pohon, menggerek kulit batang sampai kambium dan memakan jaringan kayu muda, membuat liang gerek yang panjang, terutama bila pohon jati kurang subur dan menyebabkan terbentuknya kallus (gembol). Fase larva ini biasanya berlangsung antara April – September. Pengendalian oleng-oleng dengan insektisida fumigan sehingga dapat mengenai sasaran dengan cepat. Pemilihan jenis tanaman tumpang sari yang pendeek, di daerah endemik perlu dilakukan agar ruang tumbuh di bawah tajuk tidak terlalu lembab. Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan penggunaan perangkap lampu (light trap) pada malam hari.
i)        Hama penggerek pucuk biasanya menyerang tanaman jati muda. Ulat ini berwarna kemerahan dengan kepala berwarna hitam; dibelakang kepala terdapat cincin kuning keemasan Gejala awal biasanya pada bagian pucuk apikal tiba-tiba menjadi layu dan mengering sepanjang 30-50 cm, yang disebabkan karena adanya lubang gerekan kecil (± 2mm) di bawah bagian yang layu/kering.. Pada bagian ujung batang utama yang mati akan keluar tunas-tunas air/cabang-cabang baru. Pengendalian hama ini dapat dilakukan injeksi insektisida sistemik ke batang dan mengurangi/menghilangkan tunas-tunas air yang muncul agar pucuk yang stagnasi dapat aktif tumbuh lagi. Bila tidak segera dihilangkan maka tunas air yang muncul akan menggantikan fungsi batang utama, sehingga batang di bagian atas membengkok.
j)        Hama Kutu Putih (Pseudococcu /mealybug) menyerang dengan menghisap cairan tanaman terutama pada musim kemarau. Seluruh tubuhnya dilindungi oleh lilin/tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih; pada bagian belakang didapati benang-benang tawas yang lebih panjang. Hama ini sering menyebabkan daun keriting, pucuk apikal tumbuh tidak normal (bengkok dan jarak antar ruas daun pendek). Hama ini biasanya akan menghilang pada musim hujan namun kerusakan yang terjadi dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Hama kutu ini bersimbiosis dengan semut gramang (Plagiolepis longipes) dan semut hitam (Dolichoderus bituberculatus) yang sering memindahkan kutu dari satu tanaman ke tanaman lain. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida nabati dan pemotongan bagian-bagian yang cacat dan hendaknya dilakukan pada awal musim penghujan.
k)      Hama kupu putih (peloncat flatid putih) umumnya menyerang tanaman jati muda. Dari kenampakannya, hama kupu putih yang menyerang jati ini sangat mirip dengan spesies flatid putih Anormenis chloris. Jenis serangga flatid jarang dilaporkan menyebabkan kerusakan ekonomis pada tanaman budidaya. Namun demikian, apabila populasinya tinggi dalam skala luas pada musim kemarau yang panjang akan memperbesar tekanan terhadap tanaman muda sehingga meningkatkan resiko mati pucuk. Pengendalian hama ini dilakukan dengan aplikasi insektisida sistemik melalui batang (bor/bacok oles) dan penyemprotan bagian bawah daun, ranting dan batang dengan insektisida racun lambung.
l)        Hama kumbang bubuk basah (Xyleborus destruens) atau kumbang ambrosia menyerang pada batang jati di daerah-daerah dengan kelembaban tinggi. Di daerah yang curah hujannya lebih dari 2000 mm per tahun, serangan hama ini dapat ditemukan sepanjang tahun. Gejala yang nampak berupa kulit batang berwarna coklat kehitaman akibat adanya lendir yang bercampur kotoran X. destruens. Serangan hama ini tidak mematikan pohon atau mengganggu pertumbuhan tetapi akibat saluran-saluran kecil melingkar pada batang akan menurunkan kualitas kayu. Pencegahan dilakukan dengan tidak menanam jati di daerah yang curah hujannya lebih dari 2000 mm per tahun. Menebang pohon-pohon yang diserang pada waktu penjarangan. Mengurangi kelembaban mikro tegakan, misalnya dengan mengurangi tumbuhan bawah dan melakukan penjarangan dengan baik.
m)    Penyakit layu bakteri dapat menyerang bibit maupun tanaman muda di lapangan (umur 1-5 tahun) yang dapat menyebabkan kematian. Gejalanya daun (layu, menggulung, mengering dan rontok), batang (layu dan mengering) serta bagian akar rusak. Pada kambium atau permukaan luar kayu gubal nampak garis-garis hitam membujur sepanjang batang. Pengendaliannya dapat dilakukan secara biologis, kimiawi dan cara silvikultur. Cara biologi dan kimiawi baik untuk mengatasi serangan di persemaian, sedangkan untuk serangan pada tanaman di lapangan, maka cara silvikultur lebih efektif dan aman. Cara biologi dilakukan dengan menggunakan bakteri antagonis Pseudomonas fluorescens dan cara kimiawi menggunakan bakterisida, yang disemprotkan ke seluruh permukaan tanaman dan sekitar perakaran. Cara silvikultur dilakukan dengan memperbaiki drainase lahan dan pengaturan jenis tumpang sari pada tanaman pokok jati.
n)    Hama Inger-Inger (Neotermes tectonae) merupakan suatu golongan rayap tingkat rendah. Gejala kerusakan berupa pembengkakan pada batang, umumnya pada ketinggian antara 5-10 m, dengan jumlah pembengkakan dalam satu batang terdapat 1-6 lokasi dan menurunkan kualitas kayu. Waktu mulai hama menyerang sampai terlihat gejala memerlukan waktu 3-4 tahun, bahkan sampai 7 tahun. Serangan hama inger-inger umumnya pada lokasi tegakan yang memiliki kelembaban iklim mikro tinggi, seperti akibat tegakan yang terlalu rapat. Pencegahan dan Pengendalian dengan penjarangan yang sebaiknya dilakukan sebelum hujan pertama atau kira-kira bulan oktober guna mencegah penyebaransulung (kelompok hama inger-inger yang mengadakan perkawinan). Secara biologi hama ini mempunyai musuh alami seperti burung pelatuk, kelelawar, tokek, lipan, kepik buas, cicak, dan katak pohon. Karena itu keberadaan predator-predator tersebut harus dijaga di hutan jati.

E.     Panen
Jati emas dapat tumbuh dengan cepat, tanaman dapat dipanen pada umur 8 tahun setelah tanam dengan diameter antara 20 cm. Jika menginginkan kayu yang cukup besar maka tanaman jati dapat dipelihara hingga 50 tahun. Dengan jarak tanah yang dianjurkan tersebut maka panen jati dapat dilakukan antara 10 th hingga 12 tahun.

REFERENSI

Anonim. 2013. http://aimarusciencemania.wordpress.com/2012/11/05/deskripsi-tumbuhan-jati/. di akses tanggal 14 november 2013.
———. 2013b. http://satriamadangkara.com/syarat-tumbuh-budidaya-pohon-jati/. diakses tanggal 14 November 2013.
———. 2013c. http://forestryinformation.wordpress.com/2011/07/16/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-jatidan-cara-pengendaliannya/. diakses tanggal 14 November 2013.
———. 2013d. http://dimasadam21.blogspot.com/p/kultur-jaringan-tanaman-jati.html
. diakses tanggal 14 November 2013.
———. 2013e. http://jualbibitjati.blogspot.com/2012/02/pemeliharaan-tanaman-jati-kultur.html. diakses tanggal 14 November 2013.
———. 2013f. http://budi-daya-pohon.blogspot.com/2012/07/seputar-tanaman-jati.html. diakses tanggal 14 November 2013.
———. 2013g. http://www.scribd.com/doc/86537063/Perbanyakan-Bibit-Jati-Melalui-Kultur-Jaringan. diakses tanggal 14 November 2013.
———. 2013h. http://www.irwantoshut.net/jarak_tanam_jati.html. diakses tanggal 14 November 2013.

Share Post